http://books.google.com/books?id=F13RgtrhNc8C&lpg=PA241&ots=NnaOqNe3VB&dq=arteri%20subklavia%20kiri&hl=id&pg=PA242#v=onepage&q=arteri%20subklavia%20kiri&f=false
Florentinus Jhon Hendra blog's
Berpikir tdk hnya berpikir,, tetapi mencari,,,
F.J.H
F.J.H
Sabtu, 30 Maret 2013
Jumat, 18 Januari 2013
Sistem Informasi Laboratorium Rumah Sakit

MAKALAH
SISTEM INFORMASI LABORATORIUM RUMAH SAKIT
Ditujukan
untuk memenuhi salah satu tugas mata ajar aplikasi komputer
oleh
Agustina
Saputri ( 30120112001
)
Florentinus
Jhon Hendra (30120112008 )
PROGRAM
STUDI S-1 KEPERAWATAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS
BANDUNG
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang maha Esa karena
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“SISTEM INFORMASI LABORATORIUM RUMAH SAKIT.” Makalahini dibuat untuk memenuhi salah satu
tugas mata ajar aplikom Prodi S1 keperawatan STIKes Santo Borromeus Bandung.
Penulis juga tak lupa ingin mengucapkan banyak
terima kasih pada dosen mata pelajaran yang bersangkutan, orang tua penulis
juga semua pihak yang bersangkutan dengan penyelesaiaan makalah penulis.
Namun, makalah yang penulis buat masih jauh
dari kesempurnaan karena keterbatasan penulis dalam pembuatan makalah ini.
Jadi, dengan kerendahan hati, penulis memohon kritik dan saran yang membangun
suksesnya makalah penulis.
Bandung, Januari 2013
Penulis
i
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGATAR………………………………………………………………………………........i
DAFTAR
ISI……………………………………………………………………………………...ii
BAB
I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………1
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………. . 1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………………1
1.3 Tujuan Makalah
……………..………………………………………………………. 2
1.4 Manfaat Makalah
..…………………………………………………………………… 2
BAB II SISTEM INFORMASI LABORATORIUM RUMAH
SAKIT.
2.1 Pengertian Sistem Informasi
Laboratorium (SIL) Ryumah Sakit.....................3
2.2
Alur Data dari Pasien Yang Melakukan Pemeriksaan Laboratorium ……… .3
2.3
Perancangan Sistem Informasi Laboratorium Rumah Sakit…………………..6
BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………....8
3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………....8
3.2
Saran………………………………………………………………………………...9
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................................10
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pada saat ini perkembangan informasi
telah berkembang dengan sangat pesat, oleh karena itu sudah banyak pula
perusahaan-perusahaan atau instansi-instansi yang menggunakan sistem informasi
untuk meningkatkan usahanya termasuk Rumah Sakit. Cara untuk meningkatkan usaha
suatu perusahaan ialah dengan cara membangun sistem informasi yang baik. Dan
syarat untuk membangun sistem informasi yang baik yaitu adanya kecepatan dan
keakuratan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Sistem
informasi yang mendukung kinerja suatu instansi akan terlaksana dengan baik dan
dapat menangani berbagai pengolahan data apabila menggunakan teknologi
informasi. Sistem informasi dibuat untuk mempermudah dalam pengelolaan dan
penyimpanan data, maka dapat menghasilkan suatu informasi yang tepat dan
akurat. Komputer adalah suatu alat yang
dapat menyimpan data, mengolah data, dan memberikan informasi yang diinginkan
secara tepat dan akurat yang berguna bagi perusahaan untuk kemajuan usahanya.
Adanya
sistem informasi yang tepat dan akurat dapat mengurangi terjadinya kesalahan
yan tidak diinginkan sehingga dapat meningkatkan kinerja yang lebih efisien dan
kecepatan operasional instansi. Namun
pencatatan data sudah dilakukan dengan komputerisasi tetapi hanya sebatas
pendaftaran pasien, transaksi, input hasil pemeriksaan dan cetak hasil. Hal ini
masih kurang efektif dan efisien, karena ada proses yang masih berulang dan
sulit diterapkan dalam aplikasi yang terintegrasi terutama dengan cabang-cabang
lainnya. Pengiriman hasil pemeriksaan dengan pasien sering mengalami keterlambatan, karena secara
manual. Sehingga untuk itu, Rumah Sakit sangat memerlukan sistem informasi
laboratorium untuk mempermudah pengerjaan
berbagai hasil sampel pasien demi kepuasan pelayanan rumah sakit kepada
pasien.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana alur dari hasil sampel
laboratorium pasien diolah?
2. Apa saja yang harus diperhatikan
apabila kita menggunakan LIS( Laboratory Information System)?
3. Alat apa saja yang digunaan untuk
merancang Sistem Informasi Laboratorium?
1
2
1.3 Tujuan Makalah
1. Mengetahui alur dimana hasil sampel
laboratorium pasien diolah
2. Mengetahui hal- hal yang perlu
diperhatikan dalam menggunakan LIS
3. Mengetahui alat- alat apa saja yang
digunanakan untuk merancang sebuah LIS di Rumah Sakit
1.4 Manfaat Makalah
Makalah
ini bermanfaat bagi setiap orang yang ingin mengetahui bagaimana informasi dari
setiap pasien di rumah sakit yang menjalani tes di laboratorium akhirnya bisa
mengetahui hasilnya. Mulai dari pasien registrasi sampai melakukan tes dan
akhirnya mereka mendapat analisis dari dokter atau consultant berdasarkan hasil
laboratorium yang sudah keluar tersebut. Selain itu, makalh ini juga bermanfaat
bagi kita, karena didalamnya terdapat bagaiman sebuah Sistem Informasi
Laboratorium dibentuk. Sehingga kita tidak hanya asal mendengar apa itu Sisten
Informasi Laboratorium Rumah Sakit, tetapi kita juga mengerti apa saja komponen
yang menyusun sebuah system penting untuk
kenyamanan mengakses dan memasukan data pasien atau data dari bagian-
bagian vital dari system rumah sakit.
BAB
II
SISTEM
INFORMASI LABORATORIUM RUMAH SAKIT
2.1
Pengertian Sistem Informasi Laboratorium
(SIL) Rumah Sakit
Sistem Informasi Laboratorium adalah sebuah system yang
khususnya terdapat di dalam Rumah Sakit yang merupakan
gabungan perangkat dan prosedur yang digunakan untuk mengelola siklus informasi
(mulai dari pengumpulan data sampai pemberian umpan balik informasi) untuk
mendukung pelaksanaan tindakan tepat dalam perencanaan, pelaksanaan dan
pemantauan kinerja laboratorium.
LIS adalah sebuah kelas dari perangkat
lunak yang menangani penerimaan, pemrosesan dan penyimpanan informasi yang
dihasilkan oleh proses laboratorium medis. Sistem ini seringkali harus
berinteraksi dengan instrumen dan sistem informasi lainnya seperti Hospital
Information Sistem (HIS). Disiplin ilmu yang mendukung LIS termasuk diantaranya
yaitu hematologi, kimia, imunologi, bank darah (manajemen donor dan transfusi),
surgical pathology, anatomical pathology, flow cytometry and mikrobiologi.
2.2
Cara Kerja Sistem Informasi Laboratorium
Rumah Sakit
|
|
|
|
||||||||||
|
||||||||||
Berdasarkan kemampuan peralatan
laboratorium, cara system laboratorium bekerja antar peralatan laboratorium
dengan komputer dapat dikategorikan sebagai berikut :
1. Unidirectional
: yaitu peralatan laboratorium hanya bisa mengirim data ke komputer. Data hasil
pemeriksaan akan dikirim ke komputer, untuk input pemeriksaannya tetap
dilakukan entri sebelum dilakukan pemeriksaan.
2. Bidirectional
: yaitu peralatan laboratorium yang bisa melakukan komunikasi dua arah dengan
komputer. Biasa disebut Query Mode. Tidak semua alat lab memiliki fasilitas
ini. Biasanya alat-alat lab yang baru menyediakan fitur ini. Cara kerja metode
ini:
3
4
Petugas
lab meng-entry biaya pemeriksaan dan jenis pemeriksaan pada database Hospital
Information System (selanjutnya disebut HIS).
1. Sampel dimasukkan ke alat lab.
2. Alat membaca Barcode
ID (identifikasi) pasien.
3. Alat berkomunikasi ke HIS meminta data
sesuai dengan ID Pasien.
4.HIS mengirimkan data yang ditransaksikan
(ID Pasien dan jenis pemeriksaan).
5. Software mengubah transaksi menjadi jenis
pemeriksaan.
6. Alat melakukan pemeriksaan.
7. Alat mengirim hasil ke HIS. Metode
bidirectional ini memungkinkan analis
lab tidak perlu meng-entry ID pasien dan jenis pemeriksaan, sehingga human
error sangat minimal.
Adapun fitur - fitur tambahan yang direncanakan oleh SIL
:
1. Pengiriman
hasil pemeriksaan laboratorium melalui
email dan SMS pada pasien
Hal ini diupayakan
untuk memudahkan pengaksesan hasil Lab. pasien. Selain itu hal ini dilakukan
karena lebih efisien secara waktu. Hasil pemeriksaan tinggal dibuka dimana saja
asal bisa membuka account email tanpa harus datang langsung ke Rumah Sakit untuk
mengambil hasil pemeriksaan.
2. Pembuatan
berbagai jenis laporan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Rumah Sakit ataupun pasien
Hal ini dilakukan
agar SIL dapat semakin membantu dan mendukung setiap pihak yang memerlukan
hasil data. Hasil pemeriksaan yang telah diolah dapat dirubah menjadi beberapa
bentuk tampilan agar dapat memudahkan setiap pihak yang ingin menggunakannya.
3. Interface
HL7
HL7
adalah standar pesan yang memungkinkan aplikasi klinis untuk pertukaran data. HL7
adalah organisasi standar pengembangan terakreditasi oleh American National
Standards Institute (ANSI) untuk penulis berbasis konsensus standar mewakili
pandangan yang luas dari para stakeholder sistem kesehatan. Dari sudut
pandang praktis, komite HL7 telah menyusun koleksi format pesan dan standar
klinis terkait yang longgar mendefinisikan presentasi ideal informasi
klinis. HL7, yang
merupakan singkatan dari Tingkat
Kesehatan Tujuh adalah standar untuk bertukar informasi antara
aplikasi medis. Standar ini mendefinisikan format untuk transmisi yang
berhubungan dengan kesehatan informasi. Informasi
yang dikirim menggunakan standar HL7 dikirim sebagai koleksi dari satu atau
lebih pesan, masing-masing
mengirimkan satu record atau item yang berhubungan dengan kesehatan informasi.
5
Contoh pesan
HL7 termasuk catatan pasien, catatan laboratorium dan informasi penagihan.
Kesehatan Nama Tingkat 7 melambangkan
tujuh lapisan Organisasi Standar Internasional (ISO) Model Komunikasi:
a. Fisik:
Menghubungkan entitas ke media transmisi
b.
Data Link: Menyediakan kontrol error antara node yang berdekatan
c. Jaringan:
Rute informasi dalam jaringan
d. Transportasi:
Menyediakan end-to-end kontrol komunikasi
e. Sesi:
Menangani masalah yang tidak masalah komunikasi
f.
Presentasi: Mengkonversi informasi
Adapun tujuan dari Health Level 7 (HL7) adalah sebagai
berikut:
a. untuk
menyederhanakan pelaksanaan antarmuka antara aplikasi software kesehatan
b. Untuk membuat standar terbaik dan paling banyak
digunakan dalam perawatan kesehatan.
c. meningkatkan pemberian perawatan, alur kerja
mengoptimalkan, mengurangi ambiguitas dan meningkatkan transfer pengetahuan
antara semua pemangku kepentingan, termasuk penyedia layanan kesehatan, lembaga
pemerintah, komunitas vendor, SDOs sesama dan pasien, tanpa mengorbankan
transparansi, akuntabilitas, kepraktisan, atau kesediaan kita untuk menempatkan
kebutuhan stakeholder pertama.
d.
menghasilkan
suatu framework berupa template
struktur data berdasarkan Reference
Information Model (RIM) yang berisi spesifikasi
tabel dan field yang sesuai dengan kebutuhan sistem
rumah sakit secara spesifik. Template tersebut akan dijadikan
sumber acuan standar
bagi para pengembang
aplikasi perangkat lunak.
4.
Pengecekkan sejarah pemeriksaan medis pasien
Dengan
adanya system untuk pengecekkan, maka data yang dihasilkan akan benar- benar valid, dan semakin kecil
kemungkinan terjadi kesalahan. Hal ini akan membantu paramedic dalam
mempercepat keputusan tindakan medis yang selanjutnya akan dilakukan dalam
usaha pengobatan pasien.
6
2.3 Pemrosesan
Spesimen Laboratorium
Pemrosesan
sampel biasanya bermula dengan :
1.
Seperangkat
sampel dan nota permintaan. Khasnya satu set tabung vakutainer yang mengandung
darah, atau spesimen lain manapun akan tiba di laboratorium di tas plastik
kecil bersama dengan nota itu.
2.
Nota dan spesimen itu dicantumkan nomor
laboratorium. Biasanya semua spesimen menerima nomor yang sama, sering dengan
stiker yang dapat ditempel di tabung dan nota.
3.
Analisator
memindai barkod label secara otomatis dan permintaan tes yang dinaikmuatkan
dari SIL. Entri permintaan di sistem manajemen laboratorium melibatkan
pengetikan atau pemindaian (di mana barkod digunakan) di nomor laboratorium,
dan memasuki identifikasi pasien, begitupun tiap tes yang diperlukan.
Memerlukan mesin, komputer, dan staf laboratorium untuk mengetahui tes mana
yang dinantikan, dan juga memberikan tempat (seperti bagian RS, dokter atau
pelanggan lain) agar hasilnya dapat diberikan. Untuk sampel biokimiawi, darah
biasanya disentrifugasi dan serum dipisahkan.
Biasanya alur
kerja di laboratorium itu padat dari tengah malam hingga pukul 7:00 pagi. Para
perawat dan dokter biasanya meminta pasien dites setidaknya sekali sehari
dengan penghitungan darah dan profil kimiawi yang lengkap. Permintaan itu
kemudian didapat dari selama pengambilan pagi oleh seorang ahli flebotomi.
Dengan cara ini teknisi medis dapat menguji spesimen dan mendapatkan hasil di
kartu pasien untuk dokter untuk dikonsultasikan selama laporan paginya. Waktu
lain buat laboratorium sibuk adalah setelah pukul 3:00 siang saat kantor dokter
praktek swasta tutup. Seorang kurir akan membawa spesimen yang telah didapat
sepanjang hari itu dan mengantarkannya ke laboratorium. Kurir itu juga akan
berhenti di pusat pengambilan dan membawa spesimen.
2.4
Komponen
Yang Digunakan Untuk Membangun Sebuah Sistem Informasi Laboratorium Rumah Sakit
1. Kabel
RS-232 (db9 & db25) dan jack output RS-232 (db9 & db25) serta input PCI
RS-232 untuk instrument Interface Server.
2. Satu
set komputer P4, sebagai Instrument Interface Server (server penghubung antara
peralatan laboratorium dan HIS)
3. Operating System Windows XP Home atau
Professional.
4. Printer
barcode
7
5. Manual
book masing-masing alat, khususnya keterangan tentang host-interface.
6. Sudah terinstal HIS atau Rekam Medis
Elektronik dan Billing System
7.
Beberapa
alat pendukung lainnya. Jika terdapat perbedaan kode antara billing dan hasil
pemeriksaan, software ini akan disesuaikan sesuai kebutuhan masing-masing
laboratorium termasuk juga masalah konversi / ekspansi kodesehingga data
input-output sesuai yang kita inginkan. Semua peralatan laboratorium bisa
diintegrasikan, dengan syarat dilengkapi keterangan tentang host-interface pada
buku manual. Untuk saat ini yang telah diintegrasikan adalah alat yang
menggunakan port serial (RS-232).
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Sebuah sistem informasi diperlukan untuk
mendukung semua proses pelayanan rumah sakit yang bermanfaat guna mendukung
pengambilan keputusan secara tepat dan bermanfaat bagi semua pihak. Seriap
RumaH Sakit memiliki pasien yang berjumlah besar, yang setiap harinya terus
bertambah. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem informasi laboratorium
yang dapat mengelola semua pemeriksaan laboratorium secara tepat dan cepat, baik
pasien yang berasal dari dalam rumah sakit maupun yang dari luar, yang di
dalamnya mencakup proses kegiatan yang dilakukan oleh karyawan pada Laboratorium
Rumah Sakit tersebut.
Proses
pemeriksaan laboratorium memerlukan waktu yang cepat dan membutuhkan hasil
tepat dan akurat. Solusi agar semua proses layanan Laboratorium rumah sakit dapat
berjalan dengan baik, maka dibutuhkan untuk membangun sebuah aplikasi layanan
Laboratorium yang berbasiskan metode HL7 (Health Level 7). Aplikasi ini
merupakan sebuah sistem dimana semua proses dan data yang ada dalam layanan
Laboratorium dapat menjadi sebuah basis data secara fisikal yang dapat
terintegrasi langsung dengan alat pemeriksaan pada laboratorium.
Aplikasi ini dapat menstandarisasi dan
mengurangi kompleksitas pertukaran data antar fungsi yang berbeda. Jika
terdapat suatu variabel yang tidak dibutuhkan oleh suatu proses, maka aplikasi
ini memungkinkan proses tersebut untuk tidak memasukkan nilai, tetapi hasil
yang diperoleh tetap melewati proses yang sama. Dalam sebuah lembaga kesehatan
seperti Rumah Sakit, proses pemeriksaan laboratorium berlangsung dinamis,
sehingga terdapat kemungkinan mengalami perubahan seiring dengan perubahan dan
tuntutan kebutuhan.
Dengan adanya aplikasi ini, hal tersebut
dapat teratasi karena sistem yang dibangun menggunakan metode HL7, mulai dari
registrasipasien baik dari Rumah Sakit
itu sendiri maupun pasien rujukan dari luar,pemeriksaan laboratorium dengan
menggunakan alat yang sesuai, biaya yang harus dikeluarkan, pendataan karyawan
yang melakukan pemeriksaan, sampai dengan pembayaran ke kasir.
8
9
3.2
Saran
Dengan
berkembangnya kemajuan teknologi pengolah data, maka diharapkan sistem
informasi di rumah sakit khususnya bagian Laboratorium sebagai pencetak hasil
analisis dari pemeriksaan sample pasien dapat semakin baik dalam memberikan
pelayanannya. Baik itu kepada paramedik sebagai penentu tindakan medis, atau
pasien sebagai orang yang diperiksa.
Selain itu,
kiranya system informasi laboratorium harus terus dikembangkan sesuai dengan
standard internasional pemberian data.
DAFTAR PUSTAKA
http:
//id.pdfsb.com/laboratorium+rumah+sakit
// aboutlabkes.wordpress.com/
//www.labmate-online.com/assets/flie_store/pr_fil
//www.doctor.eleks.com/laboratory-en.aspx
//www.wowglobal.com/it_LIS.php
//www.ligolab.com
//www.rumahbarcode.com/index.php/aplikasi-barcode/system/
//www.fakultas
kesehatan.com/pdf/analisa
10
Langganan:
Komentar (Atom)